SAHABAT
PENGANTAR MENGAJI
Rafael
adalah salah satu siswa di smk negeri yang terkenal di kabupaten Tegal. Bentuk
tubuh yang tinggi, wajah tampan seperti Dedi Corbusier tapi kurus namun baik
hati. Dia juga memiliki pemikiran yang hebat, pandai menganalisa dan
menganalogikan sesuatu apalagi dalam pelajaran. Namun di dunia ini tidak akan
ada orang yang sempurna. Begitu juga dengan Rafael karena ia memiliki
kekurangan yaitu tidak mampu dalam membaca Al-Qur’an.
Suatu
hari, tepatnya pada hari rabu jam terakhir ada pelajaran agama Islam. Pada saat
itu juga ada penilaian mengenai keterampilan dalam membaca Al-Qur’an. Hampir
semua siswa lulus dalam penilaian tersebut. Ingat yah, itu cuma hampir semua.
Jadi ada satu siswa yang tidak lulus dalam penilaian tersebut. Tau dong siapa
dia ???.. iyah... kalian pasti tau jawabannya.. yaitu Mapron tepatnya sih
temannya Mapron yaitu Rafael Priyanto no urut 22 di kelas.
Setelah
penilaian, mereka semua masuk kembali dalam satu ruang kelas yah ruang kelas X
AP 1. Pak Amin (guru pendidikan agama Islam) mengapresiasi bagi para siswa yang
telah memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an dengan baik dan untuk yang belum
begitu baik, Pak Amin meminta kepada para siswa yang telah memiliki kemampuan
tersebut untuk membimbing teman mereka yang belum bisa.
Pak
Amin berkata di depan kelas.”saya senang ada beberapa anak yang memiliki
kemampuan membaca Al-Qur’an dengan baik yaitu Dewi, Dian, Inta, Mapron, dan
Afgan. Selain itu, ternyata ada teman kita yang belum memiliki kemampuan dalam
membaca Al-Qur’an. Rafael tetap semangat yah untuk belajar dan untuk yang sudah
baik tolong bimbing teman kalian ini untuk dapat membaca Al-Qur’an dengan baik
sehingga pada kelas XII nanti kalian semua akan lulus ujian praktik agama
Islam.”
Semua
teman Rafael menjawab dengan kompak. “iya Pak.”
“Terima
kasih, sampai jumpa rabu depan dan wassalammu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam
warohmatullahi wa barokatuh.”
Dalam
benak Rafael, dia beranggapan bahwa semua temannya akan menjauhi dan mengejek
Rafael karena dia yang memiliki kemampuan dan penguasaan yang baik hampir di
semua mata pelajaran baik umum maupun kejuruan ternyata belum bisa membaca Al-Qur’an
padahal hal tersebut merupakan kewajiban bagi setiap muslim.
Inta,
Mapron, Bella, Rilis, dan Afgan mendekat ke arah Rafael dan menepuk bahu Rafael
seraya berkata. “Kita semua ada disini el buat loe, kita tuh temen. Woles yah
bro, tetap semangat loe pasti bisa.”
Rafael
dengan senang hati dan sedikit senyum mringis menjawab. “Idih, kalian semua
pada lebay, gue gapapa kok, tapi makasih banget yah buat motivasinya.”
Semua
pemikiran yang ada di benak Rafael terbantahkan dengan teman-teman yang selalu
mendukung dan memberikan motivasi kepada Rafael untuk dapat mengaji dengan
baik. Pikiran Rafael pun mulai lega dengan sikap positif dari teman-temannya.
Pelajaran
hari itu telah selesai, Inta, Rafael, Mapron, Afgan, Rilis dan Bella masih
berada di Kelas. Setelah selesai solat dhuhur mereka mengajak Rafael untuk
belajar membaca Al-Qur’an. Namun, Rafael menolak dan pulang terlebih dahulu
dari teman-temannya tersebut.
----Keesokan Harinya----
Rafael
berangkat sekolah seperti biasanya, berangkat paling pagi menaiki motor Mio
warna hijau memakai seragam dan jaket warna abu-abu. Dia selalu memilih tempat
duduk nomor 3 dan sebelah kiri. Hampir semua teman yang pernah duduk bersamanya
selalu berada di posisi sebelah kanan. Rafael yang selalu berjalan
mondar-mandir laksana satpam keamanan di kelas (Rafael menjadi sie keamanan
dalam struktur organisasi kelas).
Pelajaran
hari itu diikuti dengan baik oleh semua siswa, hanya nihil siswa yang selalu
absen. Semua bersiap untuk pulang namun tiba-tiba Inta mendekati Mapron yang
mau pulang juga. Dan Inta menanyakan sesuatu yang penting tapi gak penting
banget sih, pembicaraan mereka seperti ini.
Inta
“ Pong (panggilan akrab buat Mapron) loe punya buku Qira yah ?.”
Mapron
menjawab pertanyaan dari Inta sambil memikirkan sesuatu dengan keras” emmmmz...
mungkin punya, memang mau buat apa Ta?.”
Jawabannya
Inta “buat temen kitalah bro, kita kan mau belajar bareng sama si El mulai dari
Qiro jilid satu.”
“Oh
iya yah, kapan mau belajar bareng sama si El ?” tanya Mapron.
“Maybe
ntar besok Pong. Nanti Qironya dibawa
yah.” Inta semangat banget.
“Siap
Ta !.” jawaban Tegas dari Mapron.
......Seminggu
Kemudian.......
Selama
seminggu, Inta dan teman-teman mengajak Rafael untuk belajar mengaji bersama
namun entah kenapa Rafael selalu menolak. Dan pada suatu hari, Rafael mulai
tidak seperti biasanya. Dia sudah tiga hari tidak berangkat ke sekolah. Semua
teman bingung dengan keadaan Rafael yang tidak ada kabar kenapa ia tidak dapat
mengikuti pelajaran seperti biasanya.
Pada
saat istirahat, Inta menyampaikan usulan di depan kelas untuk menjenguk Rafael
ke rumahnya. Usulan dari Inta disetujui oleh seluruh siswa di kelas ya tidak
termasuk Rafael. Semua teman Rafael
berharap bahwa ia akan baik-baik saja. Dan ada beberapa perwakilan kelas yaitu
Inta, Mapron, Afgan, Bella, dan Rilis. Mereka semua setelah pelajaran selesai
akan menjenguk Rafael ke rumahnya.
Mereka
sampai di rumah Rafael tepatnya sih di Grobog Kulon (sebuah desa di Kabupaten
Tegal). Sampai di sana Mapron melihat sesosok orang yang mungkin mirip atau
bahkan itu Rafael sendiri . Secara spontan pun Mapron langsung menyapa orang
tersebut.
“Hay
bro, lagi apa?.” Tanya Mapron.
Dengan
muka kaget, orang tersebut menengok ke arah Mapron dan langsung lari masuk ke
rumah Rafael.
“Assalammu’alaikum
?.” secara bersamaan mereka memberi salam.
“Wa’alaikumussalam.”
Seorang wanita cantik keluar menjawab salam.
“Permisi
mba, ini benar rumahnya Rafael ? apa Rafael ada di dalam? Rafael sedang apa ?
Rafael sehat kan mba ?” belum dijawab aja si Inta langsung tanya dengan
beruntun.
“Iya
benar, kalau tanya satu-satu toh dek, sebentar yah saya panggilkan Rafaelnya
dulu, kalian semua duduk saja dulu .” kakaknya Rafael pun pergi ke dalam
memanggilkan Rafael.
“Iya
mba, terima kasih.” Mereka semua pun duduk.
Setelah
mereka menunggu agak lama dengan keheningan dan muka yang memikirkan sesuatu ya
seperti orang H2C (harap-harap cemas). Keheningan pun berganti dengan obrolan
yang membahas tantang orang yang mereka temui di depan rumah Rafael.
Inta
mengawali pembicaraan,”Eh jang(panggilan buat teman perempuan di kelas mereka),
tadi Rafael apa bukan yah?.”
“Tadi
Rafael jang, tapi kalau itu Rafael kok malah lari yah?.” Semua terheran-heran
dan penasaran dengan sosok orang yang mirip Rafael tadi.
“Gue
yakin banget, tadi beneran Rafael, tapi iya yah, kok malah kabur? Apa Rafael takut
ma kita yah ?.”
“Jang,
it’s imposible, masa Rafael takut ma kita-kita sih, tapi kita sendiri yang
nyeremin keles...hehehehehehehe.” Bella menjawab pertanyaan serius tersebut
dengan bercanda.
“Jang,
itu mah sama aja keles. Berarti loe juga serem dong hehehehe.”
“oh
iya yah.” Sedikit lola (lama mikirnya) Bella menjawab dengan tidak yakin.
Saat
mereka sedang ngobrol asyik dan menebak-nebak orang yang mereka temui tadi,
tiba-tiba kakaknya Rafael datang.
“Maaf
ya dek, Rafael yah belum bisa ketemu kalian.”
“Iya,
tidak apa-apa mba, oh yah kenapa Rafael tidak berangkat sekolah selama tiga
hari ? apakah Rafael sedang sakit mba ?.” Inta sedang kepo dengan keadaan
Rafael.
“Rafael
itu tidak sakit, tapi dia itu memang manja mungkin lagi pengin diperhatiin.”
“Manja
gimana mba ? kan ndak berangkat sekolah selama tiga hari, trus apa hubungannya
dengan manja?.” Bella mengutarakan pertanyaan yang ada dalam benaknya.
“Kalian
jangan bilang ke Rafael yah, kemarin itu mba lupa njemput Rafael terus karena
mba nda jemput dia, dia pulang sendiri trus jalan kaki dari sekolah ke rumah.
Karena itu Rafael tidak berangkat selama tiga hari ini. Maaf yah Rafael yah
belum bisa ketemu sama kalian dan jangan bilang-bilang yah kalau kalian tahu
ini dari mba. ”
“Siap
mba, ya udah kalau memang Rafael belum bisa ketemu, kami pamit aja mba,
sampaikan salam saja dari kami semua buat Rafael. Terima kasih yah mba.”
“Iyah
sama-sama.”
‘Kami
pulang dulu yah mba, assalammu’alaikum mba.”
“Wa’alaikumussalam,
ati-ati yah.”
Mereka
pulang dari rumah Rafael dan tidak bisa bertemu Rafael pada hari itu, namun
mereka membawa hasil bahwa keadaan Rafael itu baik-baik saja.
-----Keesokan
Harinya-----
Akhirnya
Rafael mau berangkat lagi seperti biasa. Inta yang telah merindukan Rafael pun
langsung mendekat dan menanyakan keadaannya. “El kenapa kemarin loe gak mau
ketemu kita ?, oh yah kabare pie bro, sehat kan?.”
“Emmz,
gak papa, (mulai mengalihkan pembicaraan) kapan mau belajar ngaji lagi.?”
“Kapan
aja bisa, terus yah si Pong dah bawa buku Qiro buat loe belajar El.” Tambah
Inta membujuk Rafael.
“Masa
? sumpah ? it’s special for me ?.”
dengan lebay si Rafael menjawab.
“Ih,
lebay loe El. Kapan loe jadi kaya gini?.” Inta terheran dengan sikap Rafael
hari ini.
“Sejak hari ini, hehehehehehh..”
Rafael malah bercanda.
Rafael dan Inta pun berbicara
panjang kali lebar dan hasilnya adalah luas sekali pembicaraan mereka sampai
obrolan tersebut terpotong karena kedatangan Pak Amin.
“Selamat pagi, Assalammu’alaikum.”
Sapa Pak Amin kepada semua siswa.
“Selamat pagi Pak, wa’alaikumussalam
warohmatullahi wabarokatuh.” Semua siswa menjawab dengan kompak banget dan
penuh semangat.
“Sebelum memulai pelajaran hari ini,
mari kita awali dengan membaca do’a.”
“Iya Pak.”
Setiap pelajaran agama Islam ini, Pak
Amin selalu membimbing mereka semua dengan membawa do’a bersama. Pak Amin
membacakan beberapa kata dari bahasa arab kemudian mereka semua mengulanginya
begitu pula saat pelajaran telah selesai.
Tak terasa pelajaran hari ini pun
telah selesai, dan hari ini merupakan salah satu hari yang sangat menyenangkan
karena pada hari ini mereka semua bertemu dengan Pak Amin (guru PAI sekaligus
pembimbing kelas mereka AP 1). Jam 13.00 WIB Mapron, Afgan, Rafael, Rilis,
Inta, dan Bella sholat bersama di musolah kecil di samping Smean Resto
(kantinnya smea sekolah tempat mereka belajar). Setelah sholat, mereka sedang
memakai sepatu di depan musolah. Kemudian terdengar suara yang menanyakan
tentang kapan Rafael dan mereka semua belajar membaca Al-Qur’an.
“El, belajar ngaji yuk, pas nda ada
kegiatan nih.” Ajakan inta dengan semangat.
“Emmz, nanti yah gue dah laper
banget nih. Makan dulu terus belajar yah.!” Celoteh Rafael.
“Okeh, isi perut dulu terus belajar
ngaji bareng.” Mapron setuju.
Akhirnya, Rafael pun mau belajar
mengaji bersama setelah makan siang di smean resto. Mereka belajar mengaji di kelas mereka
sendiri. Mapron dan Afgan berperan sebagai guru ngajinya Rafael. Mereka semua
dengan sabar mengajari Rafael mengaji dari Qiro jilid satu. Mapron sang guru
pun mulai mengawali dengan memperkenalkan huruf-huruf hijaiyah. “Yang ini
namanya alif, ba, ta tsa, jim, ha, kho.”
“Ini apa ? alif ? alif yang mana ?
ba yang mana ? kalau ngajarin yang woles oh pong.”
“Hemmmm (senyum terPaksa) iyah El.
Ini yang namanya alif, ini ba, ini ta.”
“Gitu oh, ini alif ? kalau ada
harokatnya dibaca apa ?.”
“Kalau alif diharokat fathah dibaca
a, kasroh dibaca i, terus dommah dibaca u.” sabarnya Mapron terlihat.
“Oh, Cuma kaya gitu ? ini a, i, u.”
Sok pinter yah Rafael muncul sambil menunjuk huruf yang ia baca.
“Iya, it’s just like it. Gampang kan
?.”
“Iyalah, lanjut oh.”
Mereka
melanjutkan pembelajaran membaca Al-Qur’an sampai waktu ashar. Dan setelah
solat ashar di musolah, mereka pun pulang ke rumah masing-masing.
“El, besok lagi yah, semangat
mengaji.” Inta terus yang mengajak Rafael belajar ngaji.
“Iya kalem.”
“Kita balik dulu yah.” Rilis, Bella
dan Inta pergi ke parkiran.
“Iyah, ati-ati yah sampai ketemu
besok jang.”
-----Keesokan
Harinya-----
Mereka
melanjutkan pembelajaran dari dari huruf za sampai fa, pembelajaran mulai seru,
dimana mereka semua saling memberikan perhatian yang sangat serius dalam
membimbing Rafael. Rafael pun mulai membiasakan diri dengan perlakuan
teman-temannya itu.
Dalam membimbing seseorang yang belum pernah
memang sedikit susah. Namun untuk mereka, ini semua adalah hal yang sangat
menyenangkan karena dapat membantu teman dan mempererat tali persaudaraan di antara
mereka.
Tak terasa pembelajaran mengenali huruf
hijaiyah telah selesai. Selanjutnya adalah mengaji surat-surat pendek yang
termasuk kategori mudah untuk para pemula.
“Alhamdulillah,
huruf hijaiyah telah Rafael pahami, sekarang kita mulai belajar Al-Qur’an dari
surat-surat pendek.” Kata Mapron.
“Alhamdulillah,
terima kasih yah teman-teman berkat kalian gue sudah bisa sampai sini.” Rafael
terharu.
“Tenang
aja, kita semua bakal bantuin loe El.” Saut Inta.
“Hokeh,
ayo kita mulai belajar lagih. Ini mau mulai dari surat apa?.” Tanya Rafael.
“Kita
mulai belajar dari surat yang pertama yaitu Al-Fatihah.”
“Baik.”
Kemudian Rafael mulai belajar membaca surat Al-Fatihah dengan bimbingan Mapron
dan Afgan.
Hampir setiap hari mereka melakukan
belajar bersama ini, walaupun terkadang tak selalu untuk belajar mengaji.
Mereka juga melakukan belajar bersama dalam hal pelajaran umum dan kejuruan.
Persahabatan mereka sangatlah kental dan akhirnya Allah yang menentukan nasib
mereka.
------Enam
bulan kemudian------
Berkat
keuletan Rafael dan teman-temannya dalam belajar mengaji, akhirnya sampailah
Rafael dalam tahap pembelajaran membaca Al-Qur’an yang sesungguhnya. Rafael
mulai membaca surat Al-Baqarah, Ali Imron dan selanjutnya sampai pada juz 5.
Mendengarkan hal tersebut Pak Amin merasa senang dan ingin mengetahui bagaimana
perkembangan Rafael dalam membaca Al-Qur’an.
Ketika
mereka sedang berjalan di selasar ruang guru, secara tidak disengaja mereka
bertemu dengan Pak Amin. Seperti biasanya, mereka membudayakan 3S (senyum,
sapa, salam). Mereka melakukan hal tersebut kepada Pak Amin.
“Assalammu’alaikum
Pak.”
“Wa’alaikumussalam.
Kalian mau kemana ?.”
“Kami
mau ke smean resto Pak.” Afgan menjawab pertanyaan dari Pak Amin.
“Oh
ya, saya dengar katanya Rafael sudah bisa mengaji ? apa itu benar?.”
“Iya
Pak, Rafael sudah mulai bisa.” Inta bangga dengan kemajuan Rafael.
“Apa
benar ? saya tidak percaya.”
“Kenapa
Pak ?.” Inta terheran.
“Apa
kamu memang bisa belajar secepat ini ?.”
“Saya
akan buktikan kepada Bapak.” Sambung Rafael.
“Baiklah,
saya ingin lihat kamu membaca Al-Qur’an di depan kelas nanti rabu saat
pelajaran bapak.” Pak Amin memberikan tantangan kepada Rafael.
“Siap
Pak.”
“Iya,
saya tunggu nanti.” Pak Amin berjalan menuju ruang guru.
Setelah berbicara dengan Pak Amin,
mereka melanjutkan perjalanan menuju smean resto. Bella dan Rilis bertanya
kepada Rafael tentang apa yang mereka dengar tadi dari Pak Amin.
“El,
kamu nyakin bisa nglakuin itu ?.” Rilis sedikit ragu.
“Aku
harus nyakin dan percaya kalau aku bisa.” Sikap optimis dari Rafael muncul.
“Bagus,
gitu dong... aku dukung loe el.” Inta yang selalu mendukung Rafael.
“Iyah
bener, semangat yah,,, kita semua akan dukung loe.” Afgan memotivasi.
“Makasih
yah, kalian baik baik ma gue, jadi
tambah sayang ma kalian hehehehe.”
“Emmmz,
kita juga.terutama Inta tuh.. hehehe cie.” Celotehan dari Bella.
Mereka saling
menggengam tangan dan berjalan dengan cinta yang tulus akan persahabatan.
------Beberapa
hari kemudian------
Pada hari rabu, tepatnya jam
pelajaran Pak Amin. Saat ini pula waktunya Rafael menjawab dan melakukan
tantangan yang diberikan kepadanya. Semua teman merasa gugup dan H2C
(harap-harap cemas) apakah seorang Rafael dapat melakukan hal tersebut dengan
baik dan benar. Di sisi lain, para sahabatnya memberikan motivasi dan dukungan
untuk Rafael. Berkat semua teman akhirnya Rafael memiliki kenyakinan untuk
melakukan hl tersebut.
Mereka semua sudah bersiap-siap.
Beberapa menit kemudian Pak Amin datang dan seperti biasa memulai pelajaran
dengan ucapan salam dan do’a. Hampir setengah jam pelajaran, Rafael mengira
bahwa Pak Amin lupa dengan apa yang beliau berikan kepada Rafael. Di saat
Rafael merasa aman dan tidak memikirkan tantangan tersebut. Tiba-tiba Pak Amin
menanyakan hal tersebut.
“Apakah
saya mempunyai janji dengan kalian tentang sesuatu?.” Tanya Pak Amin dengan
semua murid.
“Ada
Pak.”
“Alhamdulillah
kalian masih ingat tentang pesan saya, apakah sudah siap ?.”
“Baik
Pak, saya sudah siap.” Jawaban yang tegas dari Rafael.
“Iya,
silahkan maju dan lakukan dengan baik.”
“Iya
Pak.” Rafael berjalan dari tempat duduknya menuju ke depan kelas.
Semua mata menuju ke arah dan
memperhatikan Rafael. Dalam hati Rafael merasa deg-degan yang tak tertolong.
Ini adalah pertama kalinya Rafael membaca Al-Qur’an di depan kelas dan di depan
teman-teman. Inta selalu memberikan semangat dan dukungan untuk Rafael. Dia
selalu mendo’akan semoga Rafael bisa melakukan tantangan tersebut dengan baik. “ya
Allah berikanlah Rafael kemampuan. Aamin ya Allah.” Do’a inta dalam hatinya.
Perlahan-lahan Rafael membuka Al-Qur’an
yang dibawanya. Ia membuka surat Ar-Rahman. Dan mulai membacanya dari ayat
pertama sampai terakhir. Semua temannya merasa senang karena Rafael dapat membaca
dengan lancar. Do’a yang Inta panjatkan terkabul juga. Semua anak dalam kelas
tersebut memberikan apresiasi dan tepuk tangan akan keberhasilan Inta dan
teman-temannya dalam membimbing Rafael
untuk membaca Al-Qur’an.
Pak
Amin pun merasa bangga karena kemampuan dan kemauan Rafael yang menjadikan ia
dapat belajar mengaji dengan baik dan cepat. Setelah mendengarkan Rafael
membaca Al-Qur’an, Pak Amin menanyakan alasan kenapa Rafael memilih surat Ar-Rahman
tersebut.
“Alhamdulillah,
kamu bagus, kamu memiliki peningkatan dalam mengaji Al-Qur’an ini. Namun ada
yang ingin saya tanyakan. Kenapa kamu memilih surat Ar-Rahman dan bukan yang
lain?.”
“saya
memilih surat ini, karena banyak alasan Pak. Yang pertama karena Allah adalah
maha penyayang dimana saya masih diberi kesempatan untuk hidup dan memiliki
semua yang saat ini saya miliki dari orang tua, saudara dan teman-teman; yang
kedua adalah karena kasih sayang Pak Amin, walaupun saya dahulu tidak bisa
mengaji sekarang bisa karena berkat bantuan teman-teman semua yang awalnya Pak
Amin meminta mereka untuk membimbing saya; yang ketiga adalah berkat kesabaran
dan kasih sayang teman-teman semua saya bisa melakukan hal ini. Terima kasih.”
“Wah,
alasanmu sangatlah bagus, berikan tepuk tangan untuk Rafael.”
Semua pun bertepuk tangan dan gembira.
Sebelum mengakhiri pelajaran, Pak Amin memberikan amanat. Amanat tersebut
berisi ajakan, yaitu marilah kita membaca Al-Qur’an dan mengajinya setiap hari,
selain dibaca kita juga harus memahami dari isi Al-Qur’an tersebut karena Al-Qur’an
akan menjadi penolong kita semua di dunia dan akhirat. Mengajilah sampai mati,
saat kita dilahirkan orang tua kita langsung mendengarkan suara adzan yang
terdapat ayat Al-Qur’an dan di saat kita meninggal kita akan dibacakan ayat Al-Qur’an
juga.
Hari ini terasa sangat indah bagi
kelas AP 1. Karena mereka semua mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dan
tak terlupakan. Rafael, Inta, Rilis, Bella, Afgan, dan Mapron berkumpul di
depan perpustakaan. Mereka duduk sambil melihat ikan-ikan di kolam.
“El,
loe hebat loe keren gue terharu ma kata-kata loe tadi.” Ujar Rilis kepada
Rafael.
“Kalian
yang hebat kawan, ini semua tuh berkat kalian, dari kesabaran dan kasih sayang
kalian.” Tanggapan Rafael.
“Kita
semua itu satu, kita teman dan kita satu keluarga. Kita akan saling membantu
untuk kita.” Kata-kata Bella yang sedikit bijak.
“Eh,
Jang tumben banget sih, kata-kata loe itu emmz kita banget.. hehehehe” Afgan
menambahkan.
“Bener-bener.
Semua itu bener banget. Dan inget pesan Pak Amin tadi, mengaji sampai mati.”
Inta mengingatkan amanat pak Amin waktu pelajaran.
“Gimana
kalau kita melanjutkan hal ini, tiap pulang sekolah kita ngaji bareng terus.”
“Iya
bener. gue setuju.” Afgan menyetujui usulannya Mapron.
“Sip,
aku, kamu dan kita setuju.” Mapron, Rafael, Rilis, Bella, dan Inta bersama-sama
mengucapkan kata-kata ini.
Ini adalah cerita persahabatan yang
mengantarkan Rafael menjadi lebih baik dan dapat membaca Al-Qur’an dengan baik.
Bagi kalian yang belum bisa, janganlah menyerah karena menuntut ilmu itu tidak
ada batasnya dan tetaplah semangat. Dan untuk yang sudah dapat membaca Al-Qur’an
dengan baik, jangan sungkan-sungkan untuk mengajarkannya dan meningkatkan serta
mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Mengaji sampai mati, wujud dari
melestarikan Al-Qur’an kitab suci agama kita semua.
Sekian.
Karya : Dewi
Permata Ayu
Fb : Dewi Permata Ayu
Email : dewipermataayu@gmail.com