Kamis, 04 Desember 2014

Cerpen Tentang Persahabatan dan Mengaji



SAHABAT PENGANTAR MENGAJI

Rafael adalah salah satu siswa di smk negeri yang terkenal di kabupaten Tegal. Bentuk tubuh yang tinggi, wajah tampan seperti Dedi Corbusier tapi kurus namun baik hati. Dia juga memiliki pemikiran yang hebat, pandai menganalisa dan menganalogikan sesuatu apalagi dalam pelajaran. Namun di dunia ini tidak akan ada orang yang sempurna. Begitu juga dengan Rafael karena ia memiliki kekurangan yaitu tidak mampu dalam membaca Al-Qur’an.

Suatu hari, tepatnya pada hari rabu jam terakhir ada pelajaran agama Islam. Pada saat itu juga ada penilaian mengenai keterampilan dalam membaca Al-Qur’an. Hampir semua siswa lulus dalam penilaian tersebut. Ingat yah, itu cuma hampir semua. Jadi ada satu siswa yang tidak lulus dalam penilaian tersebut. Tau dong siapa dia ???.. iyah... kalian pasti tau jawabannya.. yaitu Mapron tepatnya sih temannya Mapron yaitu Rafael Priyanto no urut 22 di kelas.
Setelah penilaian, mereka semua masuk kembali dalam satu ruang kelas yah ruang kelas X AP 1. Pak Amin (guru pendidikan agama Islam) mengapresiasi bagi para siswa yang telah memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an dengan baik dan untuk yang belum begitu baik, Pak Amin meminta kepada para siswa yang telah memiliki kemampuan tersebut untuk membimbing teman mereka yang belum bisa.

Pak Amin berkata di depan kelas.”saya senang ada beberapa anak yang memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an dengan baik yaitu Dewi, Dian, Inta, Mapron, dan Afgan. Selain itu, ternyata ada teman kita yang belum memiliki kemampuan dalam membaca Al-Qur’an. Rafael tetap semangat yah untuk belajar dan untuk yang sudah baik tolong bimbing teman kalian ini untuk dapat membaca Al-Qur’an dengan baik sehingga pada kelas XII nanti kalian semua akan lulus ujian praktik agama Islam.”
Semua teman Rafael menjawab dengan kompak. “iya Pak.”
“Terima kasih, sampai jumpa rabu depan dan wassalammu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam warohmatullahi wa barokatuh.”

Dalam benak Rafael, dia beranggapan bahwa semua temannya akan menjauhi dan mengejek Rafael karena dia yang memiliki kemampuan dan penguasaan yang baik hampir di semua mata pelajaran baik umum maupun kejuruan ternyata belum bisa membaca Al-Qur’an padahal hal tersebut merupakan kewajiban bagi setiap muslim.
Inta, Mapron, Bella, Rilis, dan Afgan mendekat ke arah Rafael dan menepuk bahu Rafael seraya berkata. “Kita semua ada disini el buat loe, kita tuh temen. Woles yah bro, tetap semangat loe pasti bisa.”
Rafael dengan senang hati dan sedikit senyum mringis menjawab. “Idih, kalian semua pada lebay, gue gapapa kok, tapi makasih banget yah buat motivasinya.”

Semua pemikiran yang ada di benak Rafael terbantahkan dengan teman-teman yang selalu mendukung dan memberikan motivasi kepada Rafael untuk dapat mengaji dengan baik. Pikiran Rafael pun mulai lega dengan sikap positif dari teman-temannya.

Pelajaran hari itu telah selesai, Inta, Rafael, Mapron, Afgan, Rilis dan Bella masih berada di Kelas. Setelah selesai solat dhuhur mereka mengajak Rafael untuk belajar membaca Al-Qur’an. Namun, Rafael menolak dan pulang terlebih dahulu dari teman-temannya tersebut.

----Keesokan Harinya----
Rafael berangkat sekolah seperti biasanya, berangkat paling pagi menaiki motor Mio warna hijau memakai seragam dan jaket warna abu-abu. Dia selalu memilih tempat duduk nomor 3 dan sebelah kiri. Hampir semua teman yang pernah duduk bersamanya selalu berada di posisi sebelah kanan. Rafael yang selalu berjalan mondar-mandir laksana satpam keamanan di kelas (Rafael menjadi sie keamanan dalam struktur organisasi kelas).

Pelajaran hari itu diikuti dengan baik oleh semua siswa, hanya nihil siswa yang selalu absen. Semua bersiap untuk pulang namun tiba-tiba Inta mendekati Mapron yang mau pulang juga. Dan Inta menanyakan sesuatu yang penting tapi gak penting banget sih, pembicaraan mereka seperti ini.
Inta “ Pong (panggilan akrab buat Mapron) loe punya buku Qira yah ?.”
Mapron menjawab pertanyaan dari Inta sambil memikirkan sesuatu dengan keras” emmmmz... mungkin punya, memang mau buat apa Ta?.”
Jawabannya Inta “buat temen kitalah bro, kita kan mau belajar bareng sama si El mulai dari Qiro jilid satu.”
“Oh iya yah, kapan mau belajar bareng sama si El ?” tanya Mapron.
“Maybe ntar besok Pong. Nanti  Qironya dibawa yah.” Inta semangat banget.
“Siap Ta !.” jawaban Tegas dari Mapron.

......Seminggu Kemudian.......
Selama seminggu, Inta dan teman-teman mengajak Rafael untuk belajar mengaji bersama namun entah kenapa Rafael selalu menolak. Dan pada suatu hari, Rafael mulai tidak seperti biasanya. Dia sudah tiga hari tidak berangkat ke sekolah. Semua teman bingung dengan keadaan Rafael yang tidak ada kabar kenapa ia tidak dapat mengikuti pelajaran seperti biasanya.

Pada saat istirahat, Inta menyampaikan usulan di depan kelas untuk menjenguk Rafael ke rumahnya. Usulan dari Inta disetujui oleh seluruh siswa di kelas ya tidak termasuk Rafael.  Semua teman Rafael berharap bahwa ia akan baik-baik saja. Dan ada beberapa perwakilan kelas yaitu Inta, Mapron, Afgan, Bella, dan Rilis. Mereka semua setelah pelajaran selesai akan menjenguk Rafael ke rumahnya.

Mereka sampai di rumah Rafael tepatnya sih di Grobog Kulon (sebuah desa di Kabupaten Tegal). Sampai di sana Mapron melihat sesosok orang yang mungkin mirip atau bahkan itu Rafael sendiri . Secara spontan pun Mapron langsung menyapa orang tersebut.
“Hay bro,  lagi apa?.” Tanya Mapron.

Dengan muka kaget, orang tersebut menengok ke arah Mapron dan langsung lari masuk ke rumah Rafael.

“Assalammu’alaikum ?.” secara bersamaan mereka memberi salam.
“Wa’alaikumussalam.” Seorang wanita cantik keluar menjawab salam.
“Permisi mba, ini benar rumahnya Rafael ? apa Rafael ada di dalam? Rafael sedang apa ? Rafael sehat kan mba ?” belum dijawab aja si Inta langsung tanya dengan beruntun.
“Iya benar, kalau tanya satu-satu toh dek, sebentar yah saya panggilkan Rafaelnya dulu, kalian semua duduk saja dulu .” kakaknya Rafael pun pergi ke dalam memanggilkan Rafael.
“Iya mba, terima kasih.” Mereka semua pun duduk.

Setelah mereka menunggu agak lama dengan keheningan dan muka yang memikirkan sesuatu ya seperti orang H2C (harap-harap cemas). Keheningan pun berganti dengan obrolan yang membahas tantang orang yang mereka temui di depan rumah Rafael.
Inta mengawali pembicaraan,”Eh jang(panggilan buat teman perempuan di kelas mereka), tadi Rafael apa bukan yah?.”
“Tadi Rafael jang, tapi kalau itu Rafael kok malah lari yah?.” Semua terheran-heran dan penasaran dengan sosok orang yang mirip Rafael tadi.
“Gue yakin banget, tadi beneran Rafael, tapi iya yah, kok malah kabur? Apa Rafael takut ma kita yah ?.”
“Jang, it’s imposible, masa Rafael takut ma kita-kita sih, tapi kita sendiri yang nyeremin keles...hehehehehehehe.” Bella menjawab pertanyaan serius tersebut dengan bercanda.
“Jang, itu mah sama aja keles. Berarti loe juga serem dong hehehehe.”
“oh iya yah.” Sedikit lola (lama mikirnya) Bella menjawab dengan tidak yakin.

Saat mereka sedang ngobrol asyik dan menebak-nebak orang yang mereka temui tadi, tiba-tiba kakaknya Rafael datang.
“Maaf ya dek, Rafael yah belum bisa ketemu kalian.”
“Iya, tidak apa-apa mba, oh yah kenapa Rafael tidak berangkat sekolah selama tiga hari ? apakah Rafael sedang sakit mba ?.” Inta sedang kepo dengan keadaan Rafael.
“Rafael itu tidak sakit, tapi dia itu memang manja mungkin lagi pengin diperhatiin.”
“Manja gimana mba ? kan ndak berangkat sekolah selama tiga hari, trus apa hubungannya dengan manja?.” Bella mengutarakan pertanyaan yang ada dalam benaknya.
“Kalian jangan bilang ke Rafael yah, kemarin itu mba lupa njemput Rafael terus karena mba nda jemput dia, dia pulang sendiri trus jalan kaki dari sekolah ke rumah. Karena itu Rafael tidak berangkat selama tiga hari ini. Maaf yah Rafael yah belum bisa ketemu sama kalian dan jangan bilang-bilang yah kalau kalian tahu ini dari mba. 
“Siap mba, ya udah kalau memang Rafael belum bisa ketemu, kami pamit aja mba, sampaikan salam saja dari kami semua buat Rafael. Terima kasih yah mba.”
“Iyah sama-sama.”
‘Kami pulang dulu yah mba, assalammu’alaikum mba.”
            “Wa’alaikumussalam, ati-ati yah.”

Mereka pulang dari rumah Rafael dan tidak bisa bertemu Rafael pada hari itu, namun mereka membawa hasil bahwa keadaan Rafael itu baik-baik saja.

-----Keesokan Harinya-----
Akhirnya Rafael mau berangkat lagi seperti biasa. Inta yang telah merindukan Rafael pun langsung mendekat dan menanyakan keadaannya. “El kenapa kemarin loe gak mau ketemu kita ?, oh yah kabare pie bro, sehat kan?.”
“Emmz, gak papa, (mulai mengalihkan pembicaraan) kapan mau belajar ngaji lagi.?”
“Kapan aja bisa, terus yah si Pong dah bawa buku Qiro buat loe belajar El.” Tambah Inta membujuk Rafael.
“Masa ? sumpah ?  it’s special for me ?.” dengan lebay si Rafael menjawab.
“Ih, lebay loe El. Kapan loe jadi kaya gini?.” Inta terheran dengan sikap Rafael hari ini.
            “Sejak hari ini, hehehehehehh..” Rafael malah bercanda.

            Rafael dan Inta pun berbicara panjang kali lebar dan hasilnya adalah luas sekali pembicaraan mereka sampai obrolan tersebut terpotong karena kedatangan Pak Amin.
            “Selamat pagi, Assalammu’alaikum.” Sapa Pak Amin kepada semua siswa.
            “Selamat pagi Pak, wa’alaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh.” Semua siswa menjawab dengan kompak banget dan penuh semangat.
            “Sebelum memulai pelajaran hari ini, mari kita awali dengan membaca do’a.”
            “Iya Pak.”

            Setiap pelajaran agama Islam ini, Pak Amin selalu membimbing mereka semua dengan membawa do’a bersama. Pak Amin membacakan beberapa kata dari bahasa arab kemudian mereka semua mengulanginya begitu pula saat pelajaran telah selesai.

            Tak terasa pelajaran hari ini pun telah selesai, dan hari ini merupakan salah satu hari yang sangat menyenangkan karena pada hari ini mereka semua bertemu dengan Pak Amin (guru PAI sekaligus pembimbing kelas mereka AP 1). Jam 13.00 WIB Mapron, Afgan, Rafael, Rilis, Inta, dan Bella sholat bersama di musolah kecil di samping Smean Resto (kantinnya smea sekolah tempat mereka belajar). Setelah sholat, mereka sedang memakai sepatu di depan musolah. Kemudian terdengar suara yang menanyakan tentang kapan Rafael dan mereka semua belajar membaca Al-Qur’an.
            “El, belajar ngaji yuk, pas nda ada kegiatan nih.” Ajakan inta dengan semangat.
            “Emmz, nanti yah gue dah laper banget nih. Makan dulu terus belajar yah.!” Celoteh Rafael.
            “Okeh, isi perut dulu terus belajar ngaji bareng.” Mapron setuju.

            Akhirnya, Rafael pun mau belajar mengaji bersama setelah makan siang di smean resto.  Mereka belajar mengaji di kelas mereka sendiri. Mapron dan Afgan berperan sebagai guru ngajinya Rafael. Mereka semua dengan sabar mengajari Rafael mengaji dari Qiro jilid satu. Mapron sang guru pun mulai mengawali dengan memperkenalkan huruf-huruf hijaiyah. “Yang ini namanya alif, ba, ta tsa, jim, ha, kho.”
            “Ini apa ? alif ? alif yang mana ? ba yang mana ? kalau ngajarin yang woles oh pong.”
            “Hemmmm (senyum terPaksa) iyah El. Ini yang namanya alif, ini ba, ini ta.”
            “Gitu oh, ini alif ? kalau ada harokatnya dibaca apa ?.”
            “Kalau alif diharokat fathah dibaca a, kasroh dibaca i, terus dommah dibaca u.” sabarnya Mapron terlihat.
            “Oh, Cuma kaya gitu ? ini a, i, u.” Sok pinter yah Rafael muncul sambil menunjuk huruf yang ia baca.
            “Iya, it’s just like it. Gampang kan ?.”
            “Iyalah, lanjut oh.”

Mereka melanjutkan pembelajaran membaca Al-Qur’an sampai waktu ashar. Dan setelah solat ashar di musolah, mereka pun pulang ke rumah masing-masing.
            “El, besok lagi yah, semangat mengaji.” Inta terus yang mengajak Rafael belajar ngaji.
            “Iya kalem.”
            “Kita balik dulu yah.” Rilis, Bella dan Inta pergi ke parkiran.
            “Iyah, ati-ati yah sampai ketemu besok jang.”

-----Keesokan Harinya-----
Mereka melanjutkan pembelajaran dari dari huruf za sampai fa, pembelajaran mulai seru, dimana mereka semua saling memberikan perhatian yang sangat serius dalam membimbing Rafael. Rafael pun mulai membiasakan diri dengan perlakuan teman-temannya itu.

             Dalam membimbing seseorang yang belum pernah memang sedikit susah. Namun untuk mereka, ini semua adalah hal yang sangat menyenangkan karena dapat membantu teman dan mempererat tali persaudaraan di antara mereka.

            Tak terasa pembelajaran mengenali huruf hijaiyah telah selesai. Selanjutnya adalah mengaji surat-surat pendek yang termasuk kategori mudah untuk para pemula.
“Alhamdulillah, huruf hijaiyah telah Rafael pahami, sekarang kita mulai belajar Al-Qur’an dari surat-surat pendek.” Kata Mapron.
“Alhamdulillah, terima kasih yah teman-teman berkat kalian gue sudah bisa sampai sini.” Rafael terharu.
“Tenang aja, kita semua bakal bantuin loe El.” Saut Inta.
“Hokeh, ayo kita mulai belajar lagih. Ini mau mulai dari surat apa?.” Tanya Rafael.
“Kita mulai belajar dari surat yang pertama yaitu Al-Fatihah.”
“Baik.” Kemudian Rafael mulai belajar membaca surat Al-Fatihah dengan bimbingan Mapron dan Afgan.

            Hampir setiap hari mereka melakukan belajar bersama ini, walaupun terkadang tak selalu untuk belajar mengaji. Mereka juga melakukan belajar bersama dalam hal pelajaran umum dan kejuruan. Persahabatan mereka sangatlah kental dan akhirnya Allah yang menentukan nasib mereka.
           
------Enam bulan kemudian------
Berkat keuletan Rafael dan teman-temannya dalam belajar mengaji, akhirnya sampailah Rafael dalam tahap pembelajaran membaca Al-Qur’an yang sesungguhnya. Rafael mulai membaca surat Al-Baqarah, Ali Imron dan selanjutnya sampai pada juz 5. Mendengarkan hal tersebut Pak Amin merasa senang dan ingin mengetahui bagaimana perkembangan Rafael dalam membaca Al-Qur’an.

Ketika mereka sedang berjalan di selasar ruang guru, secara tidak disengaja mereka bertemu dengan Pak Amin. Seperti biasanya, mereka membudayakan 3S (senyum, sapa, salam). Mereka melakukan hal tersebut kepada Pak Amin.
“Assalammu’alaikum Pak.”
“Wa’alaikumussalam. Kalian mau kemana ?.”
“Kami mau ke smean resto Pak.” Afgan menjawab pertanyaan dari Pak Amin.
“Oh ya, saya dengar katanya Rafael sudah bisa mengaji ? apa itu benar?.”
“Iya Pak, Rafael sudah mulai bisa.” Inta bangga dengan kemajuan Rafael.
“Apa benar ? saya tidak percaya.”
“Kenapa Pak ?.” Inta terheran.
“Apa kamu memang bisa belajar secepat ini ?.”
“Saya akan buktikan kepada Bapak.” Sambung Rafael.
“Baiklah, saya ingin lihat kamu membaca Al-Qur’an di depan kelas nanti rabu saat pelajaran bapak.” Pak Amin memberikan tantangan kepada Rafael.
“Siap Pak.”
“Iya, saya tunggu nanti.” Pak Amin berjalan menuju ruang guru.

            Setelah berbicara dengan Pak Amin, mereka melanjutkan perjalanan menuju smean resto. Bella dan Rilis bertanya kepada Rafael tentang apa yang mereka dengar tadi dari Pak Amin.
“El, kamu nyakin bisa nglakuin itu ?.” Rilis sedikit ragu.
“Aku harus nyakin dan percaya kalau aku bisa.” Sikap optimis dari Rafael muncul.
“Bagus, gitu dong... aku dukung loe el.” Inta yang selalu mendukung Rafael.
“Iyah bener, semangat yah,,, kita semua akan dukung loe.” Afgan memotivasi.
“Makasih yah, kalian baik baik ma  gue, jadi tambah sayang ma kalian hehehehe.”
“Emmmz, kita juga.terutama Inta tuh.. hehehe cie.” Celotehan dari Bella.
Mereka saling menggengam tangan dan berjalan dengan cinta yang tulus akan persahabatan.

------Beberapa hari kemudian------
            Pada hari rabu, tepatnya jam pelajaran Pak Amin. Saat ini pula waktunya Rafael menjawab dan melakukan tantangan yang diberikan kepadanya. Semua teman merasa gugup dan H2C (harap-harap cemas) apakah seorang Rafael dapat melakukan hal tersebut dengan baik dan benar. Di sisi lain, para sahabatnya memberikan motivasi dan dukungan untuk Rafael. Berkat semua teman akhirnya Rafael memiliki kenyakinan untuk melakukan hl tersebut.

            Mereka semua sudah bersiap-siap. Beberapa menit kemudian Pak Amin datang dan seperti biasa memulai pelajaran dengan ucapan salam dan do’a. Hampir setengah jam pelajaran, Rafael mengira bahwa Pak Amin lupa dengan apa yang beliau berikan kepada Rafael. Di saat Rafael merasa aman dan tidak memikirkan tantangan tersebut. Tiba-tiba Pak Amin menanyakan hal tersebut.
“Apakah saya mempunyai janji dengan kalian tentang sesuatu?.” Tanya Pak Amin dengan semua murid.
“Ada Pak.”
“Alhamdulillah kalian masih ingat tentang pesan saya, apakah sudah siap ?.”
“Baik Pak, saya sudah siap.” Jawaban yang tegas dari Rafael.
“Iya, silahkan maju dan lakukan dengan baik.”
“Iya Pak.” Rafael berjalan dari tempat duduknya menuju ke depan kelas.

            Semua mata menuju ke arah dan memperhatikan Rafael. Dalam hati Rafael merasa deg-degan yang tak tertolong. Ini adalah pertama kalinya Rafael membaca Al-Qur’an di depan kelas dan di depan teman-teman. Inta selalu memberikan semangat dan dukungan untuk Rafael. Dia selalu mendo’akan semoga Rafael bisa melakukan tantangan tersebut dengan baik. “ya Allah berikanlah Rafael kemampuan. Aamin ya Allah.” Do’a inta dalam hatinya.

            Perlahan-lahan Rafael membuka Al-Qur’an yang dibawanya. Ia membuka surat Ar-Rahman. Dan mulai membacanya dari ayat pertama sampai terakhir. Semua temannya merasa senang karena Rafael dapat membaca dengan lancar. Do’a yang Inta panjatkan terkabul juga. Semua anak dalam kelas tersebut memberikan apresiasi dan tepuk tangan akan keberhasilan Inta dan teman-temannya  dalam membimbing Rafael untuk membaca Al-Qur’an.

Pak Amin pun merasa bangga karena kemampuan dan kemauan Rafael yang menjadikan ia dapat belajar mengaji dengan baik dan cepat. Setelah mendengarkan Rafael membaca Al-Qur’an, Pak Amin menanyakan alasan kenapa Rafael memilih surat Ar-Rahman tersebut.
“Alhamdulillah, kamu bagus, kamu memiliki peningkatan dalam mengaji Al-Qur’an ini. Namun ada yang ingin saya tanyakan. Kenapa kamu memilih surat Ar-Rahman dan bukan yang lain?.”
“saya memilih surat ini, karena banyak alasan Pak. Yang pertama karena Allah adalah maha penyayang dimana saya masih diberi kesempatan untuk hidup dan memiliki semua yang saat ini saya miliki dari orang tua, saudara dan teman-teman; yang kedua adalah karena kasih sayang Pak Amin, walaupun saya dahulu tidak bisa mengaji sekarang bisa karena berkat bantuan teman-teman semua yang awalnya Pak Amin meminta mereka untuk membimbing saya; yang ketiga adalah berkat kesabaran dan kasih sayang teman-teman semua saya bisa melakukan hal ini. Terima kasih.”
“Wah, alasanmu sangatlah bagus, berikan tepuk tangan untuk Rafael.”

            Semua pun bertepuk tangan dan gembira. Sebelum mengakhiri pelajaran, Pak Amin memberikan amanat. Amanat tersebut berisi ajakan, yaitu marilah kita membaca Al-Qur’an dan mengajinya setiap hari, selain dibaca kita juga harus memahami dari isi Al-Qur’an tersebut karena Al-Qur’an akan menjadi penolong kita semua di dunia dan akhirat. Mengajilah sampai mati, saat kita dilahirkan orang tua kita langsung mendengarkan suara adzan yang terdapat ayat Al-Qur’an dan di saat kita meninggal kita akan dibacakan ayat Al-Qur’an juga.

            Hari ini terasa sangat indah bagi kelas AP 1. Karena mereka semua mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dan tak terlupakan. Rafael, Inta, Rilis, Bella, Afgan, dan Mapron berkumpul di depan perpustakaan. Mereka duduk sambil melihat ikan-ikan di kolam.
“El, loe hebat loe keren gue terharu ma kata-kata loe tadi.” Ujar Rilis kepada Rafael.
“Kalian yang hebat kawan, ini semua tuh berkat kalian, dari kesabaran dan kasih sayang kalian.” Tanggapan Rafael.
“Kita semua itu satu, kita teman dan kita satu keluarga. Kita akan saling membantu untuk kita.” Kata-kata Bella yang sedikit bijak.
“Eh, Jang tumben banget sih, kata-kata loe itu emmz kita banget.. hehehehe” Afgan menambahkan.
“Bener-bener. Semua itu bener banget. Dan inget pesan Pak Amin tadi, mengaji sampai mati.” Inta mengingatkan amanat pak Amin waktu pelajaran.
“Gimana kalau kita melanjutkan hal ini, tiap pulang sekolah kita ngaji bareng terus.”
“Iya bener. gue setuju.” Afgan menyetujui usulannya Mapron.
“Sip, aku, kamu dan kita setuju.” Mapron, Rafael, Rilis, Bella, dan Inta bersama-sama mengucapkan kata-kata ini.

            Ini adalah cerita persahabatan yang mengantarkan Rafael menjadi lebih baik dan dapat membaca Al-Qur’an dengan baik. Bagi kalian yang belum bisa, janganlah menyerah karena menuntut ilmu itu tidak ada batasnya dan tetaplah semangat. Dan untuk yang sudah dapat membaca Al-Qur’an dengan baik, jangan sungkan-sungkan untuk mengajarkannya dan meningkatkan serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Mengaji sampai mati, wujud dari melestarikan Al-Qur’an kitab suci agama kita semua.

Sekian.
Karya : Dewi Permata Ayu
Fb      : Dewi Permata Ayu
Email : dewipermataayu@gmail.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar