Jumat, 19 Februari 2016

pikiran kita sangat berbahaya


Pikiran kita sangat berbahaya


Jika kita selalu memikirkan kesusahan, maka jadilah kita tambah kesusahan.
Jika kita selalu memikirkan mengapa kita selalu saja sengara, maka jadilah kita tambah selalu sengsara.
Jika kita selalu mengeluh dan selalu suka curhat tentang masalah kita, maka jadilah kita selalu bermasalah.

Itulah sebabnya mengapa orang kaya selalu dapat apa yang dia inginkan, bukan karena uangnya banyak, tapi karena pikirannya sudah jauh dari kesusahan dan hambatan, pikirannya selalu optimis.
Di hatinya, dia selalu mengucapkan mantra, “aku bisa dan selalu bisa”.
Maka, dia tambah kaya dan jalannya selalu mulus.

Itulah sebabnya mengapa orang miskin jadi tambah miskin, karena dia berpikiran susah melulu, hambatan melulu, sial melulu, maka hatinya akan membaca mantra, “Akulah yang paling susah sedunia.”
Lalu jadilah dia tambah miskin dan selalu saja sial, terhambat melulu jalan hidupnya.

Maka jagalah pikiran!
Dengan apakah menjaganya? Dengan senantiasa ingat.
Ingat ialah menghubungkan kesadaran kepada Yang Maha Kuasa.

Daftar pustaka:
Vanny, Chrisma W. 2011. Cerita Sebuah Pensil. Yogyakarta:Laksana.

sisi lain anak jalanan


Sisi Lain Anak Jalanan

Pernahkan terlintas dalam pikiran Anda, lebih hebat manakah antara kita senang anak jalanan/ pengamen? Apakah kita yang lebih hebat ? bagi Anda jawaban demikian Anda salah besar. Tahukah Anda yang membuat jawaban kita itu salah?
Mungkin bila kita melihat orang jalanan / pengamen, mungkin yang selalu ada di benak kita adalah kotor, kumuh, dan nakal. Memang semua itu benar, tapi ada suatu hal yang lebih berharga di balik semua itu. Anak jalanan/ pengamen mempunyai suatu keistimewaan yang tidak kita miliki. Apa keistimewaannya? Tiap hari mereka mampu melawan kekejaman kehidupan hanya untuk satu tujuan, yaitu mencari uang untuk hidup satu hari. Walaupun yang didapat sedikit, namun mereka tetap bersyukur dan tak mengenal kata “putus asa” untuk kembali berjuang pada hari-hari selanjutnya. Bagaimana dengan kita? Kita tiap hari merasakan kekejaman dunia—hanya pada waktu tertentu saja, namun kita selalu gampang putus asa bila mengalami kegagalan, dan lebih parahnya lagi, kita tidak pernah mensyukuri apa yang kita punya saat ini. Sekarang, lebih hebat mana, kita ataukah anak jalanan?

Daftar pustaka:
Vanny, Chrisma W. 2011. Cerita Sebuah Pensil. Yogyakarta:Laksana.

cerita seorang nelayan


Cerita Seorang Nelayan

Ini adalah ceita klasik tentang nelayan yang kebenarannya perlu kita renungkan. Suatu kali, seorang pengusaha sedang berlibur ke sebuah kampung nelayan. Dia merasa terganggu saat melihat seorang nelayan sedang bersantai di bawah pohon.
“Pak, mengapa bapak tidak melaut?”
“Saya sudah melaut semalam dan saya perlu istirahat.”
“Kalau Bapak melaut lagi, Bapak akan menghasilkan banyak ikan.”
“Lalu?”
“Bapak bisa mengumpulkan uang untuk membeli sebuah perahu.”
“Lalu?”
“Dengan perahu itu, Baak tidak perlu lagi menyetorkan sebagian keuntungan Bapak kepada pemilik perahu.”
“Lalu?”
“Bapak bisa mengumpulkan lebih banyak uang untuk membeli perahu kedua.”
“Lalu?”
“Dengan dua perahu, lebih banyak uang dan membeli perahu ketiga, perahu keempat, perahu kelima, dan seterusnya.”
“Lalu?”
“Jika perahu Bapak sudah banyak, Bapak bisa menyewakannya pada nelayan yang lain sehingga Bapak tidak perlu lagi melaut.”
Nelayan itu tersenyum dan berkata, “Menurut Bapak, apa yang sedang saya lakukan sekarang?”
Nasihat pengusaha itu baik. Namun, apa yang dilakkukan nelayan itu justru mengajarkan kita satu hal. Hidup harus seimbang.
Pepatah Amerika mengatakan, “Bekerja keras tanpa beristirahat akan menghasilakan orang seperti Jack, seorang ang mati dengan cepat, dan Jean, seorang janda yang kaya.”
Kita perlu, secara sengaja, berhenti sejenak dari kerja keras dan rutinitas untuk menikmati segarnya rerumputan hijau, kicauan burung di udara, dan harumnya bunga mawar yang mekar.

Daftar pustaka:
Vanny, Chrisma W. 2011. Cerita Sebuah Pensil. Yogyakarta:Laksana.

mata air


Mata Air

Pelajaran terpenting yang saya peroleh di perguruan tinggi terjadi pada hari pertama di kuliah pertama.
Buku catatan saya masih putih bersih dan saya menunggu professor saya memberi pelajaran. Tanpa berkata sepatah katapun, dia berjalan menuju papan tulis, mengambil spidol, dan mulai menulis:
“Perguruan tinggi adalah sebuah mata air pengetahuan. Ada yang datang ke sana untuk minum melepas dahaga, ada yang cicip-cicip. Namun sayangnya, kebanyakan datang haya untuk kumur-kumur dan kemudaian membuangnya.”

Daftar pustaka:
Vanny, Chrisma W. 2011. Cerita Sebuah Pensil. Yogyakarta:Laksana.

cerita sebuah pensil


Cerita Sebuah Pensil

Seorang anak bertanya kepada Neneknya yang sedang menulis sebuah surat. “Nenek lagi menulis tentang pengalaman kita ya? Atau tentang aku?”
Mendengar pertanyaan si cucu, sang Nenek berhenti menulis dan berkata kepada cucunya, “Sebenarnya Nenek sedang menulis tentang kamu, tetapi ada yang lebih penting dari isi tulisan ini, yaitu pensil yang Nenek pakai. Nenek harap kamu bakal seperti pensil ini ketika kamu besar nanti.” Ujar si Nenek lagi.
Mendengar jawaban ini, si cucu kemudian melihat pensilnya dan bertanya kembali kepada sang Nenek ketika dia melihat tidak ada yang istimewa dari pensil yang Nenek pakai.
“Tapi Nek, sepertinya pensil itu sama saja dengan pensil yang lainnya.” Ujar si cucu.
Sang Nenek kemudian menjawab, “Itu semua tergantung bagaimana kau melihat pensil ini, pensil ini mempunyai 5 kualitas yang bisa membuatmu selalu tenang dalam menjalani hidup kalau kamu selalu memegang prinsip-prinsip itu di dalam hidup ini.”
Si Nenek kemudian menjelaskan kelima kualitas dari sebuah pensil, “Kualitas pertama, pensil mengingatkan kamu kalau kamu bisa berbuat hal yang hebat dalam hidup ini. Layaknya sebuah pensil ketika menulis, kamu jangan pernah lupa kalau ada tangan yang selalu membimbing langkah kamu dalam hidup ini. Kita menyebutnya tangan Tuhan. Dia akan selalu membimbing kita menurut kehendak-Nya.”
“Kualitas kedua, dalam proses menulis, Nenek kadang beberapa kali harus berhenti dan menggunakan rautan untk menajamkan kembali  pensil Nenek. Rautan ini pasti akan membuat si pensil menderita. Tetapi, setelah proses meraut selesai, si pensil akan mendapatkan ketajamannya kembali. Begitu juga dengan kamu! Dalam hidup ini, kamu harus berani menerima penderitaan dan kesusahan, karena itulah yang akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik.”
“Kualita ketiga, pensil selalu memberikan kita kesempatan untuk mempergunakan penghapus, untuk memperbaiki kata-kata yang salah. Oleh karena itu, memperbaiki kesalahan kita dalam hidup ini, bukanlah hal yang jelek. Itu bisa membantu kita tetap berada dalam jalan yang benar.”
“Kualitas keempat, bagian yang paling penting dari sebuah pensil bukanlah bagian luarnya, melainkan arang yang ada di dalam sebuah pensil. Oleh sebab itu, selalulah berhati-hati dan menyadari hal-hal di dalam dirimu.”
“Kualitas kelima, sebuah pensil selalu meninggalkan tanda atau goresan. Seperti juga kamu! Kamu harus sadar kalau apapun yang kamu perbuat dalam hidup ini akan meninggalkan kesan. Oleh karena itu, selalulah hati-hati dan sadar terhadap semua tindakan.”

Daftar pustaka:
Vanny, Chrisma W. 2011. Cerita Sebuah Pensil. Yogyakarta: Laksana.

waktu dan cinta


Waktu dan Cinta

Pada zaman dahulu, terdapat sebuah pulau di mana semua macam perasaan tinggal: Kebahagiaan, Kesedihan, Pengetahuan, dan segala yang lain termasuk juga Cinta.
Pada suatu hari, diumumkan kepada perasaan-perasaan itu bahwa pulau akan segera tenggelam, maka semuanya harus membangun perahu lalu pergi. Semua melakukannya, kecuali Cinta. Cinta adalah satu-satunya yang tinggal. Cinta ingin bertahan hingga saat-saat terakhir.
Ketika pulau sudah hampir tenggelam, Cinta memutuskan mencari pertolongan. Kekayaan melewati Cinta dengan sebuah perahu besar. Cinta mengatakan, “Kekayaan, apakah aku boleh ikut?” kekayaan menjawab, “Tidak, perahuku penuh dengan emas dan perak. Tidak ada tempat untukmu.”
Cinta memutuskan untuk meminta pertolongan kepada Kesia-siaan yang juga lewat dengan sebuah kapal yang indah. “Kesia-siaan, tolonglah aku!” “Aku tidak mungkin menolongmu. Kamu basah kuyup, jangan-jangan perahuku rusak nanti.” Demikian Kesia-siaan menjawab.
Kesedihan lewat, maka Cinta pun meminta tolong, “Kesedihan, izinkanlah aku ikut!” “Oh Cinta. Aku sedih sekali sehingga aku perlu menyendiri!”
Kebahagiaan juga lewat, namun ia begitu bahagianya sehingga bahkan tidak mendengar ketika Cinta memanggilnya.
Tiba-tiba terdengar suara, “Ayo Cinta, aku akan mengajakmu.” Ternyata itu suara salah satu senior. Demikian bahagia dan sukacita, Cinta bahkan lupa menanyakan kapada sang senior ke mana mereka menuju.
Ketika tiba di tanah yang kering, sang senior melanjutkan perjalanannya. Menyadari kalau dia berutang budi kepada senior, Cinta menanyakan kepada Pengetahuan, yang juga senior, “Siapa yang menolongku waktu itu?”
“Waktu” jawab di pngetahuan.
“Waktu?” demikian Cinta bertanya heran, “Mengapa Waktu menolongku?”
Pengetahuan tersenyum dengan khidmat, mendalam, dan menjawab, “Karena hanya waktu yang sanggup memahami betapa berharganya Cinta.”

Daftar pustaka:
Vanny, Chrisma W. 2011. Cerita Sebuah Pensil. Yogyakarta:Laksana.

enam kesalahan manusia


Enam Kesalahan Manusia

Filsuf dan negarawan Romawi, Cicero,menuliskan hal ini 2000 tahun yang lalu:

1.      Mengira bahwa kesuksesan pribadi bisa diperoleh dengan cara menghancurkan orang lain;
2.      Mengkhawatirkan hal-hal yang sesungguhnya sudah tidak bisa lagi diubah atau diperbaiki;
3.      Karena kita tidak mampu menyelesaikannya maka kita menyakin-yakinkan diri sendiri bawa pekerjaan itu memang tidak mungkin bisa dituntaskan;
4.      Berkosentrasi pada hal-hal kecil dan menolak untuk menyingkirkannya;
5.      Mengabaikan kemampuan otak dalam menyelesaikan masalah dan tidak mengembangkan sikap rajin membaca;
6.      Mendesak orang lain utnuk hidup dan berpikir seperti yang kita kehendaki.

Daftar pustaka:
Vanny, Chrisma W. 2011. Cerita Sebuah Pensil. Yogyakarta: Laksana.

kisah tentang kebenaran dan ibarat


Kisah Tentang Kebenaran dan Ibarat

Suatu hari, Kebenaran pergi berjalan-jalan dengan bertelanjang diri, selayaknya bayi yang baru dilahirkan.
Namun apa yang terjadi? Orang yang melihatnya malah berbalik lari menghindari. Tak seorang pun mau mengajaknya mampir ke rumah mereka.
Kebenaran merasa sedih dengan apa yang terjadi. Dia lalu menemui Ibarat. Ibarat senantiasa mengenakan pakaian yang indah penuh warna-warni. Ketika melihat kebenaran, Ibarat berkata, “Katakan, apa yang membuatmu sedih, Sobat?”
Dengan getir, Kebenaran menjawab, “Saya sedih. Sangat sedih. Usiaku sudah sangat tua, namun tak seorangpun mau mengenaliku, bahkan menyapaku. Tak seorang pun mau menerimaku.”
Mendengar hal ini, Ibarat membalas, “Orang-orang itu menghindarimu bukan karena kau tua. Bukankah aku juga tua sebagaimana engkau. Namun, semakin tua usiaku, semakin banyak orang yang menyukaiku. Mari, aku sampaikan satu rahasia.”
“Setiap orang menyukai hal-hal yang samar-samar dan cantik. Mari, kupinjami kau pakaian indahku ini, maka akan kau lihat orang-orang yang menyingkirkanmu tadi akan mengajakmu ke rumah mereka dan senang dengan kehadiranmu.”
Lalu, Kebenaran mengikuti saran dari Ibarat. Dia mengenakan pakaian yang indah yang dipinjaminya dari Ibarat. Dan, sejak saat itu, Kebenaran dan Ibarat selalu berjalan bergandengan.
***
Pojok renungan:
Sering kali kebenaran yang disampaikan secara langsung terasa menyakitkan, menakutkan, dan tak dimengerti. Namun, kebenaran yang disampaikan di balik cerita dan kisah-kisah selalu mudah diterima tanpa harus merasa dinasehati.

Daftar pustaka:
Vanny, Chrisma W. 2011. Cerita Sebuah Pensil. Yogyakarta: Laksana.