Rabu, 27 Januari 2016

Sifat-Sifat Mahasiswa yang Sukses dan yang Tidak Sukses


Sifat-Sifat Mahasiswa yang Sukses dan yang Tidak Sukses

Mungkin Anda pernah mengamati sifat-sifat mahasiswa yang sukses dalam studinya. Setelah membanding-bandingkan, Anda yakin bahwa Anda pun memiliki hampir semua sifat-sifat tersebut. Namun, Anda menjadi bingung karena prestasi belajar Anda masih mengecewakan.

Di bawah ini diperlihatkan sifat-sifat mahasiswa yang sukses dan sifat-sifat mahasiswa yang tidak sukses dalam studinya.
Mahasiswa yang Sukses
Mahasiswa yang Tidak Sukses
Mengikuti kuliah, seminar, dan praktik laboratorium secara teratur.
Tidak mengikuti kuliah, seminar, dan praktik laboratorium secara teratur.
Mencatat selama kuliah dan menuliskannya kembali dalam bentuk yang lebih sistematis dan rapi dalam hari yang sama jika masih ada waktu.
Tidak menuliskan kembali catatan-catatan kuliahnya.

Berusaha duduk paling depan dalam ruang kuliah.
Lebih suka duduk di barisan bangku belakang.
Belajar menurut jadwal yang tetap.
Tidak menyusun dan mengikuti jadwal belajar.
Berminat atau berupaya menumbuhkan minat terhadap semua mata kuliah yang diikuti.
Minatnya rendah terhadap hampir seluruh mata kuliah yang harus dia pelajari.
Percaya diri dalam aktivitas belajar maupun dalam aktivitas-aktivitas lainnya.
Kurang percaya diri dalam aktivitas belajar maupun dalam pergaulannya dengan sesama mahasiswa dan komunitas kampus.
Mempu mengonsentrasikan pikirannya terhadap pelajaran.
Kurang mampu untuk mengosentrasikan dan mudah buyar perhatiannya apabila ada sedikit gangguan.

Setelah mempelajari daftar sifat-sifat di atas, cobalah bandingkan dengan sifat-sifat yang Anda miliki. Mungkin Anda termasuk ke dalam salah satu dari dua kategori di atas. Tetapi mungkin Anda tidak masuk dalam salah satunya karena tidak  seluruhnya sifat-sifat mahasiswa yang sukses Anda miliki, demikian pula sifat-sifat mahasiswa yang tidak sukses. Yang terpenting adalah yang Anda lakukan sekarang, berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memiliki sifat-sifat positif tersebut. Inilah kutipan pengetahuan yang dapat saya bagikan. Semoga bermanfaat dan kita semua dapat menjadi orang yang sukses. Amin.

Daftar pustaka:
Anggraeni, Justina dan Hardian Marantika. 2003. Kiat Sukses dalam Study. Bandung: Pionir Jaya.

Kamis, 14 Januari 2016

berbahasa, belajar, dan bermain bersama


Berbahasa, Belajar, dan Bermain Bersama

Oleh Dewi Permata Ayu (7101414343)

Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi Negara Kesatuan Republik Indonesia (UUD 1945 Pasal 36) dan bahasa persatuan bangsa Indonesia (Butir ketiga Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928). Bahasa Indonesia diresmikan penggunaannya setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, tepatnya sehari sesudahnya, bersamaan dengan mulai berlakunya konstitusi.
Bahasa Indonesia merupakan salah satu ragam bahasa Melayu (Kridalaksana 1991). Bahasa Indonesia yang dipakai saat ini didasarkan pada bahasa Melayu Riau (sekarang Provinsi Kepulauan Riau) yang telah menjadi lingua franca sejak abad ke-19. Dalam perkembangannya ia mengalami perubahan akibat penggunaannya sebagai bahasa kerja di lingkungan administrasi kolonial dan berbagai proses pembakuan sejak awal abad ke-20 (Doyin dan Wagiran 2012:1).
Permainan tradisional Indonesia di berbagai daerah. Setiap daerah memiliki permainan tradisional sendiri-sendiri yang memiliki ciri khas. Misalnya di Sunda ada gobah, di Jawa Tengah ada congklak, dan lain sebagainya. Permainan tradisional daerah ini perlu dilestarikan karena berkaitan juga dengan budaya Indonesia.
Permainan tradisional memiliki nilai positif yang banyak. Dalam memainkannya seorang akan dilatih dalam berfikir dan bekerjasama dengan orang lain misalnya permainan lompat tali. Permainan lain yang memberikan pendidikan yaitu congklak. Ketika anak bermain congklak, anak belajar untuk bersikap sportif, bermain secara jujur, menghargai pemain lain, menerima kemenangan dengan sikap wajar, dan menerima kekalahan secara terbuka.
Bahasa Indonesia dipahami dan dituturkan oleh sebagian besar warga Indonesia. Karena bahasa Indonesia merupakan bahasa resmi dan bahasa persatuan maka lebih dari 90% warga Indonesia menggunakannya dalam komunikasi sehari-hari. Meskipun banyak yang menggunakan bahasa Indonesia, namun dalam penuturannya belum semuanya baik dan benar.
Belajar bahasa Indonesia melalui permainan. Permainan adalah sesuatu yang membuat orang senang. Apabila orang senang, maka dengan mudah dapat mengerjakan sesuatu. Melalui permainan juga, pembelajaran bahasa Indonesia yang baik dan benar dapat dilakukan dengan menyenangkan.
Permainan tradisional mulai dilupakan. Walaupun permainan tradisional memiliki banyak nilai positif namun sudah banyak anak yang mulai meninggalkannya karena gawai yang mereka miliki. Melalui permainan tradisional ini pembelajaran bahasa Indonesia dilakukan. Selain untuk pembelajaran penuturan bahasa Indonesia yang baik dan benar, metode ini juga dapat dijadikan cara melestarikan permainan tradisional yang mulai kurang diminati.
Muncul sebuah pertanyaan, mengajarkan bahasa Indonesia melalui permainan tradisional yang seperti apa. Pembelajaran yang tepat menggunakan permainan yang bagaimana.
Pembelajaran menggunakan permainan dapat dilakukan di dalam dan di luar kegiatan sekolah.  Di dalam kelas dapat dijadikan metode oleh pendidik sehingga pendidikan yang dilakukan dapat lebih menyenangkan. Metode ini dapat membuat siswa lebih tertarik, mengerti, dan memahami pembelajaran bahasa Indonesia melalui permainan. Misalnya permainan tebak kata, ular tangga, sambung kata, dan sebagainya. Di luar kelas, orang tua dapat memberikan mainan kepada anak-anaknya. Melalui permainan yang ditambahi dengan pembelajaran bahasa Indonesia yang baik.
Permainan yang dilakukan dalam pembelajaran. Ular tangga dan monopoli, di dalam permainan tersebut dapat beberapa hal yang diganti namun tetap menjaga permainan yang sebenarnya. Kota yang ada dalam permainan monopoli dapat diganti dengan nama kota di Indonesia dengan provinsinya. Selanjutnya kartu yang ada dalam permainan berisi pengetahuan tentang bahasa Indonesia. Misalnya antonim, sinonim, membuat kalimat, membenarkan kata, ejaan, dan sebagainya. Untuk permainan ular tangga di saat terkena ekor, pemain harus turun dan mengambil kartu hukuman serta di saat mendapat tangga, kemudian pemain harus mengambil kartu hadiah. Kartu hukuman dan kartu hadiah ini berisi materi yang berkaitan dengan pembelajaran bahasa Indonesia.
Permainan lain untuk pembelajaran yaitu buka tutup. Peralatan yang dibutuhkan adalah kertas yang dibuat seperti bunga yang dapat ditutup buka dan kartu tanya. Biasanya tulisan yang ada dalam kertas adalah angka dan nama barang yang akan didapatkan. Nama barang tersebut dapat diganti dengan materi yang ada dalam mata pelajaran bahasa Indonesia.
Metode ini mudah diterapkan oleh berbagai pihak. Pendidik dan orang tua dapat mengenalkan permainan ini kepada anak-anaknya. Selain itu, permainan akan membuat anak senang dalam bermain. Pelaksanaannya dapat dilakukan di dalam kelas saat pembelajaran bagi pendidik. Bagi orang tua, dapat dilakukan saat bersama anak, mengajarkan anak, dan mengakrabkan diri dengan anak.
Pembelajaran bahasa Indonesia menggunakan permainan akan lebih menyenangkan. Saat senang, siswa akan dapat belajar dengan baik. Permainan tersebut mengandung materi-materi yang ada dalam pelajaran bahasa Indonesia. Pendidik dan orang tua dapat menerapkan metode ini untuk anak-anaknya.

Daftar Pustaka :

 

Doyin, Mukh. dan Wagiran. 2012. Bahasa Indonesia Pengantar Penulisan Karya Ilmiah. Semarang : Pusat Pengembangan MKU/MKDK-LP3 Universitas Negeri Semarang.

Liputan6. 2005. “Festival Permainan Anak-Anak Tradisional Sunda”. http://news.liputan6.com/read/108136/festival-permainan-anak-anak-tradisional-sunda. Diakses tanggal 18 Desember 2015.

Liputan6. 2005. “Meski Banyak Nilai Positif, Permainan Tradisional Kurang Diminati”. http://health.liputan6.com/read/2307281/meski-banyak-nilai-positif-permainan-tradisional-kurang-diminati. Diakses tanggal 18 Desember 2015.

Liputan6. 2015. “Keren, Belajar Bahasa Indonesia Melalui Wayang”. http://global.liputan6.com/read/2347539/keren-belajar-bahasa-indonesia-melalui-wayang. Diakses tanggal 18 Desember 2015.

Prawira, Aditya Eka. 2013. “Manfaatkan Masa Bermain Anak, 0-5 Tahun, untuk Mendidik”. http://health.liputan6.com/read/612819/manfaatkan-masa-bermain-anak-0-5-tahun-untuk-mendidik. Diakses tanggal 18 Desember 2015.



Ini adalah gambar permainan buka tutup yang saya bahas dalam esai. Permainan ini biasanya dimainkan oleh anak usia Sekolah Dasar. Ada tambahan kartu tanya sebagai pembelajaran materi yang ada dalam Bahasa Indonesia.