Kesiapan Kita Menjadi Sang Produsen
Kata “konsumtif”
(sebagai kata sifat; lihat akhiran –if). Perilaku konsumtif merupakan kecenderungan manusia
untuk melakukan konsumsi tiada batas menurut Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia
( Agustina, 2002 ).
Pendapat lain dikemukakan oleh
Suprana ( Agustina, 2002 ) yang mengatakan bahwa perilaku konsumtif adalah
sebagai kecenderungan seseorang yang berperilaku secara berlebihan dalam
membeli sesuatu atau membeli secara tidak terencana. Penyebab perilaku konsumtif
adalah semakin membaiknya keadaan sosial ekonomi sebagai masyarakat,
membanjirnya barang–barang produksi, efektifnya sarana periklanan termasuk di dalamnya
media massa berkembangnya gaya hidup, mode, masih tebalnya sikap gengsi, status
sosial.
James F. Engel (dalam Mangkunegara,
2002: 3) ”mengemukakan bahwa perilaku konsumtif dapat didefinisikan sebagai
tindakan-tindakan individu yang secara langsung terlibat dalam usaha memperoleh
dan menggunakan barang-barang jasa ekonomis termasuk proses pengambilan keputusan
yang mendahului dan menentukan tindakan-tindakan tersebut.
Perilaku konsumtif adalah keinginan
untuk mengkonsumsi barang-barang yang sebenarnya kurang diperlukan secara
berlebihan untuk mencapai kepuasan yang maksimal. Konsumen memanfaatkan
nilai uang lebih besar dari nilai produksinya untuk barang dan jasa yang bukan
menjadi kebutuhan pokok.
Budaya
konsumtif menimbulkan kecanduan dalam belanja. Biasanya orang-orang tidak
menyadari dirinya terjebak di antara keinginan dan kebutuhan. Ini bisa menyerang
siapa saja, baik perempuan maupun laki-laki.
Indonesia adalah salah satu negara dengan tingkat penduduk yang cukup
banyak. Dengan demikian, Indonesia cocok sekali untuk dijadikan pasar bagi para
negara-negara industri. Apalagi sebagian besar masyarakat Indonesia lebih suka
membeli atau menggunakan barang dan jasa yang telah ditawarkan ketimbang dengan
membuat produk itu sendiri. Selain itu, masyarakat lebih menyukai barang-barang
impor dari pada barang domestik. Sehingga peminat produk-produk lokalpun
menurun dan pendapatan negara untuk produk lokalpun tergolong rendah. Untuk
itu, mampukah kita merubah kebiasaan kita untuk menjadi produsen dan konsumen
bagi para pengusaha lokal Indonesia.
Merubah kebiasaan masyarakat Indonesia dari konsumtif menjadi produktif.
Sebuah kebiasaan memang akan sulit untuk dirubah dan inilah tantangan bagi kita
semua masyarakat dan para pemuda penerus bangsa. Kesiapan kita untuk merubah
image masyarakat Indonesia dari pangsa pasar dunia menjadi sang produsen.
Indonesia memiliki wilayah tropis dengan tanah yang subur dan luas. Selain itu,
terdapat lautan yang luas dengan keanekaragaman ikan-ikan dan tumbuhan-tumbuhan
lautnya. Semua dapat kita manfaatkan sebaik-baiknya guna meningkatkan ekomomi Indonesia.
Untuk menjadi sang produsen, kita harus dapat mengendalikan tingkat
konsumsi kita sendiri. Pola konsumtif cenderung menggunakan barang dan jasa
secara berlebihan atau bahkan hanya menuruti keinginan semata bukan karena
alasan kebutuhan. Untuk contoh yaitu satu orang remaja sekarang memiliki hp
saja tidak cukup satu. Banyak di antara mereka yang memiliki hp lebih dari satu
yaitu memiliki dua, tiga atau bahkan lebih dari tiga hp. Sikap tersebut menurut
saya terlalu konsumtif dimana kepemilikan banyak hp tersebut bukanlah karena
alasan kebutuhan melainkan alasan pergaulan yang menuntut mereka supaya mereka
diterima di lingkungna tersebut. Sedangkan mereka belum memiliki penghasilan
sehingga akan muncul istilah “besar pasak daripada tiang”. Untuk memiliki
banyak hp, kita membutuhkan banyak kartu sim, banyak pulsa, banyak uang yang
dikeluarkan dan semakin konsumtif pula kita terhadap penggunaan hp. Itu semua
belum termasuk barang-barang lain. Lalu, bagaimana masyarakat Indonesia menjadi
sang produsen nantinya.
Salah satu pendapatan nasional Indonesia berasal dari tingkat
konsumsi masyarakatnya. Namun kegiatan konsumsi tersebut belumlah cukup karena
masyarakta Indonesia cenderung lebih memilih barang-barang impor ketimbang
barang-barang domestik. Disinilah para pengusaha lokal membutuhkan peran
pemerintahan untuk memajukan tingkat produksi dan konsumsi barang-barang yang
mereka buat. Semua itu untuk meningkatkan pendapatan nasional Indonesia dan
tercapainya kondisi ekonomi yang lebih baik. Karena sebuah negara maju yang
memiliki tingkat ekonomi yang baik, biasanya negara tersebut memiliki banyak
pengusaha-pengusaha. Dan sebagian pendapatan nasionalnya berasal dari kegiatan
perusahaan-perusahaan tersebut sehingga semakin banyak perusahaan yang ada di
sebuah negara maka akan semakin banyak pula pendapatan nasional negara
tersebut. Dan apabila Indonesia menginginkan negaranya maju, maka haruslah
meningkatkan produktivitas dan jumlah pengusahan yang ada di Indonesia.
Peran pemerintah dalam meningkatkan produktivitas ini adalah dengan
memudahkan pendaftaran calon pengusaha untuk mendirikan atau membuat suatu
kegiatan usaha. Jangan menyulitkan sistem pendaftaran dan banyaknya jumlah uang
registrasi. Sehingga dapat menarik minat para calon pengusaha untuk dapat
membuat atau membangun usaha baru. Selain itu, pemerintah juga dapat memberikan
bantuan kepada para pengusaha kecil untuk dapat mengembangkan prduksinya.
Bantuan tersebut dapat berupa uang tunai sebagai modal tambahan atau peralatan
lain untuk memudahkan kegiatan produksi. Selain itu, pemerintah juga harus
menerapkan standar kualitas tertentu sehingga produk-produk yang dihasilkan
memiliki kualitas tinggi dan dapat bersaing di pasar. Dengan demikian,
banyaknya pengusaha, produk yang dihasilkan, konsumsi prosuk-produk domestik
bertambah maka akan meningkatkan pula pendapatan nasional. Semakin banyaknya
pendapatan nasional Indonesia akan menunjukkan keadaan atau kondisi ekonomi
yang membaik.
Di sisi lain, kita semua selain pemerintah juga memiliki peran
penting dalam peningkatan kegiatan produksi para pengusaha Indonesia. Kemampuan
kita mendukung para pengusaha dan pemerintah. Peran menjadi konsumen produk-produk
domestik dan menurunkan konsumsi impor serta menaikkan ekspor barang-barang
buatan pengusaha Indonesia. Kegiatan ini kita mulai dengan mengendalikan bahkan
mengurangi konsumsi atau penggunaan barang-barang impor dan lebih menggunakan
barang-barang produksi Indonesia. Terkadang masyarakt kurangg berminat untuk
menggunakan produk-produk Indonesia karena kualitasnya yang rendah. Namun,
tidak sedikit produk-produk hasil pengusaha Indonesia memiliki kualitas dan
tingkat keamanan yang lebih baik. Contohnya, banyak mainan untuk anak-anak yang
diproduksi oleh negeri tirau bambu yang mengandung zat atau bahan berbahaya.
Sedangkan mainan tradisional yang berasal dari Indonesia seperti coklak dari
kayu. Coklak tersebut lebih menarik, aman dan tahan lama. Selain itu, dalam
permainan coklat juga terdapat pembelajaran seperti menghitung bagi para anak
sehingga mereka bermain sambil belajar.
Dengan contoh tersebut, produk Indonesia memiliki keunggulan tersendiri dalam
bidang usaha atau industri. Jadi kelanjutannya adalah kemauan kita bangsa Indonesia
menjadi sebuah negara pangsa pasar dunia atau sang produsen. Untuk
mewujudkannya kita semua harus saling bekerja sama. Sehingga Indonesia dapat
bersaing di dunia internasional dan nantinya kita akan menjadi bangsa yang akan
diperhitungkan dalam persaingan pasar global.
Kesimpulan.
Bangsa Indonesia merupakan negara sebagai salah satu pangsa pasar
besar di dunia sekarang ini. Peran tersebut terjadi karena masyarakat Indonesia
yang memiliki kebiasaan konsumsi yang tinggi dalam menggunakan barang dan jasa.
Kita semua lebih memilih produk impor daripada produk Indonesia. Untuk
memajukan bangsa Indonesia maka kita harus merubah kebiasaan tersebut.
Perubahan sebagai konsumen menjadi sang produsen. Yaitu dengan meningkatkan
jumlah pengusaha yang ada di Indonesia dan memilih produk-produk domestik.
Sebagai cara mendukung para pengusaha Indonesia untuk berkembang dan menjadi
lebih baik.
Dalam hal ini, pemerintah juga memiliki peran penting dalam peningkatan
jumlah pengusaha Indonesia. Peran tersebut adalah dengan memudahkan pendaftaran
bagi calon pengusaha, memberikan bantuan dana dan peralatan serta meningkatkan
kualitas produk-produk domestik. Kita semua pun harus mendukung para pengusaha
Indonesia dan pemerintah. Yaitu dengan memilih produk domestik daripada produk
luar negeri atau impor. Dengan banyaknya jumlah pengusaha di Indonesia akan
menambah kegiatan produksi. Semakin banyak pula pendapatan nasional Indonesia
dan membaiknya kondisi perekonomian Indonesia. Pemerintah dapat mengurangi
jumlah impor dan meningkatkan jumlah ekspor produk-produk domestik ke luar
negeri. Sehingga kita bangsa Indonesia dapat menjadi sebuah bangsa dan negara
yang dapat diperhitungkan dalam persaingan pasar global. Tidak hanya sebagai
pasar tapi juga sebagai sang produsen penyedia produk-produk untuk luar negeri
di tingkat internasional.
Daftar pustaka :
1. Tiara. 2012.
Perilaku Konsumtif Kelas Menengah
2. Purwartiningsih,
Puri. 2014. Indonesia Konsumtif, Indonesia Tidak Produktif
3.
http://www.siperubahan.com/read/487/Indonesia-Konsumtif-Indonesia-Tidak-Produktif#sthash.KzNHnt7u.dpuf
Tidak ada komentar:
Posting Komentar