Jumat, 19 Februari 2016

kisah tentang kebenaran dan ibarat


Kisah Tentang Kebenaran dan Ibarat

Suatu hari, Kebenaran pergi berjalan-jalan dengan bertelanjang diri, selayaknya bayi yang baru dilahirkan.
Namun apa yang terjadi? Orang yang melihatnya malah berbalik lari menghindari. Tak seorang pun mau mengajaknya mampir ke rumah mereka.
Kebenaran merasa sedih dengan apa yang terjadi. Dia lalu menemui Ibarat. Ibarat senantiasa mengenakan pakaian yang indah penuh warna-warni. Ketika melihat kebenaran, Ibarat berkata, “Katakan, apa yang membuatmu sedih, Sobat?”
Dengan getir, Kebenaran menjawab, “Saya sedih. Sangat sedih. Usiaku sudah sangat tua, namun tak seorangpun mau mengenaliku, bahkan menyapaku. Tak seorang pun mau menerimaku.”
Mendengar hal ini, Ibarat membalas, “Orang-orang itu menghindarimu bukan karena kau tua. Bukankah aku juga tua sebagaimana engkau. Namun, semakin tua usiaku, semakin banyak orang yang menyukaiku. Mari, aku sampaikan satu rahasia.”
“Setiap orang menyukai hal-hal yang samar-samar dan cantik. Mari, kupinjami kau pakaian indahku ini, maka akan kau lihat orang-orang yang menyingkirkanmu tadi akan mengajakmu ke rumah mereka dan senang dengan kehadiranmu.”
Lalu, Kebenaran mengikuti saran dari Ibarat. Dia mengenakan pakaian yang indah yang dipinjaminya dari Ibarat. Dan, sejak saat itu, Kebenaran dan Ibarat selalu berjalan bergandengan.
***
Pojok renungan:
Sering kali kebenaran yang disampaikan secara langsung terasa menyakitkan, menakutkan, dan tak dimengerti. Namun, kebenaran yang disampaikan di balik cerita dan kisah-kisah selalu mudah diterima tanpa harus merasa dinasehati.

Daftar pustaka:
Vanny, Chrisma W. 2011. Cerita Sebuah Pensil. Yogyakarta: Laksana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar