Kisah Tentang Kebenaran dan Ibarat
Suatu
hari, Kebenaran pergi berjalan-jalan dengan bertelanjang diri, selayaknya bayi
yang baru dilahirkan.
Namun
apa yang terjadi? Orang yang melihatnya malah berbalik lari menghindari. Tak seorang
pun mau mengajaknya mampir ke rumah mereka.
Kebenaran
merasa sedih dengan apa yang terjadi. Dia lalu menemui Ibarat. Ibarat
senantiasa mengenakan pakaian yang indah penuh warna-warni. Ketika melihat
kebenaran, Ibarat berkata, “Katakan, apa yang membuatmu sedih, Sobat?”
Dengan
getir, Kebenaran menjawab, “Saya sedih. Sangat sedih. Usiaku sudah sangat tua,
namun tak seorangpun mau mengenaliku, bahkan menyapaku. Tak seorang pun mau
menerimaku.”
Mendengar
hal ini, Ibarat membalas, “Orang-orang itu menghindarimu bukan karena kau tua. Bukankah
aku juga tua sebagaimana engkau. Namun, semakin tua usiaku, semakin banyak
orang yang menyukaiku. Mari, aku sampaikan satu rahasia.”
“Setiap
orang menyukai hal-hal yang samar-samar dan cantik. Mari, kupinjami kau pakaian
indahku ini, maka akan kau lihat orang-orang yang menyingkirkanmu tadi akan
mengajakmu ke rumah mereka dan senang dengan kehadiranmu.”
Lalu,
Kebenaran mengikuti saran dari Ibarat. Dia mengenakan pakaian yang indah yang
dipinjaminya dari Ibarat. Dan, sejak saat itu, Kebenaran dan Ibarat selalu
berjalan bergandengan.
***
Pojok
renungan:
Sering
kali kebenaran yang disampaikan secara langsung terasa menyakitkan, menakutkan,
dan tak dimengerti. Namun, kebenaran yang disampaikan di balik cerita dan kisah-kisah
selalu mudah diterima tanpa harus merasa dinasehati.
Daftar
pustaka:
Vanny,
Chrisma W. 2011. Cerita Sebuah Pensil. Yogyakarta: Laksana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar