Jumat, 19 Februari 2016

waktu dan cinta


Waktu dan Cinta

Pada zaman dahulu, terdapat sebuah pulau di mana semua macam perasaan tinggal: Kebahagiaan, Kesedihan, Pengetahuan, dan segala yang lain termasuk juga Cinta.
Pada suatu hari, diumumkan kepada perasaan-perasaan itu bahwa pulau akan segera tenggelam, maka semuanya harus membangun perahu lalu pergi. Semua melakukannya, kecuali Cinta. Cinta adalah satu-satunya yang tinggal. Cinta ingin bertahan hingga saat-saat terakhir.
Ketika pulau sudah hampir tenggelam, Cinta memutuskan mencari pertolongan. Kekayaan melewati Cinta dengan sebuah perahu besar. Cinta mengatakan, “Kekayaan, apakah aku boleh ikut?” kekayaan menjawab, “Tidak, perahuku penuh dengan emas dan perak. Tidak ada tempat untukmu.”
Cinta memutuskan untuk meminta pertolongan kepada Kesia-siaan yang juga lewat dengan sebuah kapal yang indah. “Kesia-siaan, tolonglah aku!” “Aku tidak mungkin menolongmu. Kamu basah kuyup, jangan-jangan perahuku rusak nanti.” Demikian Kesia-siaan menjawab.
Kesedihan lewat, maka Cinta pun meminta tolong, “Kesedihan, izinkanlah aku ikut!” “Oh Cinta. Aku sedih sekali sehingga aku perlu menyendiri!”
Kebahagiaan juga lewat, namun ia begitu bahagianya sehingga bahkan tidak mendengar ketika Cinta memanggilnya.
Tiba-tiba terdengar suara, “Ayo Cinta, aku akan mengajakmu.” Ternyata itu suara salah satu senior. Demikian bahagia dan sukacita, Cinta bahkan lupa menanyakan kapada sang senior ke mana mereka menuju.
Ketika tiba di tanah yang kering, sang senior melanjutkan perjalanannya. Menyadari kalau dia berutang budi kepada senior, Cinta menanyakan kepada Pengetahuan, yang juga senior, “Siapa yang menolongku waktu itu?”
“Waktu” jawab di pngetahuan.
“Waktu?” demikian Cinta bertanya heran, “Mengapa Waktu menolongku?”
Pengetahuan tersenyum dengan khidmat, mendalam, dan menjawab, “Karena hanya waktu yang sanggup memahami betapa berharganya Cinta.”

Daftar pustaka:
Vanny, Chrisma W. 2011. Cerita Sebuah Pensil. Yogyakarta:Laksana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar