Jumat, 19 Februari 2016

cerita seorang nelayan


Cerita Seorang Nelayan

Ini adalah ceita klasik tentang nelayan yang kebenarannya perlu kita renungkan. Suatu kali, seorang pengusaha sedang berlibur ke sebuah kampung nelayan. Dia merasa terganggu saat melihat seorang nelayan sedang bersantai di bawah pohon.
“Pak, mengapa bapak tidak melaut?”
“Saya sudah melaut semalam dan saya perlu istirahat.”
“Kalau Bapak melaut lagi, Bapak akan menghasilkan banyak ikan.”
“Lalu?”
“Bapak bisa mengumpulkan uang untuk membeli sebuah perahu.”
“Lalu?”
“Dengan perahu itu, Baak tidak perlu lagi menyetorkan sebagian keuntungan Bapak kepada pemilik perahu.”
“Lalu?”
“Bapak bisa mengumpulkan lebih banyak uang untuk membeli perahu kedua.”
“Lalu?”
“Dengan dua perahu, lebih banyak uang dan membeli perahu ketiga, perahu keempat, perahu kelima, dan seterusnya.”
“Lalu?”
“Jika perahu Bapak sudah banyak, Bapak bisa menyewakannya pada nelayan yang lain sehingga Bapak tidak perlu lagi melaut.”
Nelayan itu tersenyum dan berkata, “Menurut Bapak, apa yang sedang saya lakukan sekarang?”
Nasihat pengusaha itu baik. Namun, apa yang dilakkukan nelayan itu justru mengajarkan kita satu hal. Hidup harus seimbang.
Pepatah Amerika mengatakan, “Bekerja keras tanpa beristirahat akan menghasilakan orang seperti Jack, seorang ang mati dengan cepat, dan Jean, seorang janda yang kaya.”
Kita perlu, secara sengaja, berhenti sejenak dari kerja keras dan rutinitas untuk menikmati segarnya rerumputan hijau, kicauan burung di udara, dan harumnya bunga mawar yang mekar.

Daftar pustaka:
Vanny, Chrisma W. 2011. Cerita Sebuah Pensil. Yogyakarta:Laksana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar