Cerita Seorang Nelayan
Ini
adalah ceita klasik tentang nelayan yang kebenarannya perlu kita renungkan.
Suatu kali, seorang pengusaha sedang berlibur ke sebuah kampung nelayan. Dia
merasa terganggu saat melihat seorang nelayan sedang bersantai di bawah pohon.
“Pak,
mengapa bapak tidak melaut?”
“Saya
sudah melaut semalam dan saya perlu istirahat.”
“Kalau
Bapak melaut lagi, Bapak akan menghasilkan banyak ikan.”
“Lalu?”
“Bapak
bisa mengumpulkan uang untuk membeli sebuah perahu.”
“Lalu?”
“Dengan
perahu itu, Baak tidak perlu lagi menyetorkan sebagian keuntungan Bapak kepada
pemilik perahu.”
“Lalu?”
“Bapak
bisa mengumpulkan lebih banyak uang untuk membeli perahu kedua.”
“Lalu?”
“Dengan
dua perahu, lebih banyak uang dan membeli perahu ketiga, perahu keempat, perahu
kelima, dan seterusnya.”
“Lalu?”
“Jika
perahu Bapak sudah banyak, Bapak bisa menyewakannya pada nelayan yang lain
sehingga Bapak tidak perlu lagi melaut.”
Nelayan
itu tersenyum dan berkata, “Menurut Bapak, apa yang sedang saya lakukan
sekarang?”
Nasihat
pengusaha itu baik. Namun, apa yang dilakkukan nelayan itu justru mengajarkan
kita satu hal. Hidup harus seimbang.
Pepatah
Amerika mengatakan, “Bekerja keras tanpa beristirahat akan menghasilakan orang
seperti Jack, seorang ang mati dengan cepat, dan Jean, seorang janda yang
kaya.”
Kita
perlu, secara sengaja, berhenti sejenak dari kerja keras dan rutinitas untuk
menikmati segarnya rerumputan hijau, kicauan burung di udara, dan harumnya
bunga mawar yang mekar.
Daftar
pustaka:
Vanny,
Chrisma W. 2011. Cerita Sebuah Pensil. Yogyakarta:Laksana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar